FAEDAH KEHIDUPAN DI DUNIA INI
Tumbuh di Sarang Ular, Maka Jangan Heran Jika Berbisa
مَنْ كَانَ فِي حِجْرِ الْأَفَاعِي نَاشِئًا، غَلَبَتْ عَلَيْهِ طَبَائِعُ الثُّعْبَانِ.
Barang siapa tumbuh di lubang ular, maka tabiat ular akan menguasainya.
Peribahasa Arab ini menyampaikan pesan mendalam: bahwa manusia dibentuk oleh lingkungannya. Bila seseorang besar di tengah lingkungan yang buruk—penuh tipu daya, fitnah, kedengkian, atau kemunafikan,-- maka cepat atau lambat, wataknya pun akan menyerupai lingkungan itu, meski ia tak berniat demikian.
Hal ini sesuai dengan kaidah dalam Islam bahwa manusia akan sangat dipengaruhi oleh siapa dan di mana ia berada.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ"
"Seseorang itu mengikuti agama (gaya hidup) sahabat dekatnya. Maka hendaklah kalian memperhatikan dengan siapa kalian bersahabat."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Lingkungan yang buruk bisa menodai hati yang bersih, sebagaimana air jernih menjadi keruh jika dituang ke dalam bejana kotor.
Al-Qur’an juga memperingatkan:
"وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا"
"Dan (ingatlah) hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya (menyesal) seraya berkata: 'Wahai, andai aku tidak menjadikan si fulan teman akrabku.'"
(QS. Al-Furqan: 28)
Ibnu Qayyim rahimahullāh berkata:
"Pergaulan itu adalah sebab terbesar rusaknya hati."
Karenanya, ulama-ulama besar sangat hati-hati dalam memilih teman duduk dan lingkungan belajar.
Kesimpulan:
Lingkungan bukan sekadar tempat seseorang tumbuh, tetapi ia adalah pembentuk jati diri. Jika seseorang ingin menjadi wangi, dia harus tumbuh di kebun bunga. Tapi jika rela dibesarkan di sarang ular, jangan kaget bila nanti dia pun menggigit dan berbisa. Maka, pilihlah lingkungan dan sahabatmu sebagaimana engkau memilih makananmu: hati-hati, selektif, dan penuh pertimbangan.
Komentar
Posting Komentar