SeriNafsiah "BEKAL MENUJU TAUBAT"
#SeriNafsiah
"Bekal Menuju Taubat"
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّةٌ
وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُوْنَ
Sumber boklet majalah nikah 2009
Bonus Majalah NIKAH Vol. 8 Edisi 5, Agustus 2009
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya tercurah untuk kalian.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
يا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
Wahai manusia, aku wasiatkan kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, karena sungguh orang-orang yang bertakwa telah beruntung. Allah Ta‘ala berfirman: *"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim."* Dan Dia berfirman: *"Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu menciptakan pasangannya darinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sungguh, Allah selalu mengawasi kalian."*
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang agung.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنْ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلِّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Amma ba‘du. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (bid‘ah), setiap bid‘ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat
Mulai dari sini ……
"Dengan penuh kerendahan hati dan harapan yang tulus, semoga, tema "Bekal Menuju Taubat". Di setiap huruf menjadi kata-kata, menjadi kalimat, paragraf-paragraf setiap lembarannya dapat menjadi penuntun, menjadi pelita di tengah kegelapan, dan menjadi teman setia dalam perjalanan kita meniti jalan kehidupan yang penuh liku dan tantangan.
Buklet ini, yang telah lama berdiam diri di antara tumpukan buku, saya terinspirasi yang kemudian tergerak untuk menghadirkan kembali dalam tulisan. Alhamdulillah berkat teknologi saat ini saya bisa memfoto dan saya “copy paste” dengan google lens. Semoga tulisan menarik menurut saya ini saya hadirkan kembali untuk menyapa hati kita. Semoga Setiap kali yang membacanya, akan sama seperti saya selalu merasakan getaran yang sama atau lebih memberi inspirasi.
Kisah di balik buklet ini pun tak kalah menarik. Ia adalah hadiah berharga dari seorang sahabat karib, teman seperjuangan, kala itu, tahun 2009. Beliau, dengan kebaikan hatinya, memberikan majalah nikah beserta buklet ini sebagai bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan, yang kala itu diri ini penuh dengan keguncangan dan kegalauan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada beliau.
Saya yakin, pesan-pesan yang terkandung di dalamnya akan memberikan manfaat yang besar bagi para pembaca. Di tengah kesibukan dunia yang seringkali melalaikan, buklet ini hadir sebagai pengingat, sebagai penyejuk jiwa, dan sebagai pendorong untuk kembali kepada-Nya. Atas izin dan ridha Allah SWT, semoga buklet ini menjadi salah satu sumber inspirasi dan pengetahuan bagi kita semua. Semoga setiap kata yang tertulis di dalamnya dapat menyentuh hati, membuka pikiran, dan menuntun kita menuju jalan taubat yang diridhai-Nya.
Tulisan ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan dari hati yang tulus, sebuah ungkapan kerinduan akan ampunan dan rahmat-Nya. Semoga, setiap pembaca akan merasakan getaran yang sama, sebuah sentuhan yang menenangkan dan menguatkan.
Saya berharap, buklet ini dapat menjadi teman setia dalam perjalanan spiritual Anda, menemani setiap langkah dalam mencari inspirasi dan pencerahan. Semoga setiap hikmah yang terkandung di dalamnya dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan kita, menjadikan kita pribadi yang lebih baik, lebih dekat kepada-Nya.Saya percaya, setiap manusia berhak mendapatkan hidayah dan ampunan-Nya. Oleh karena itu, mari kita jadikan buklet ini sebagai sarana untuk merenungkan diri, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita di jalan yang lurus.”
(Alfaqir Mulya Abu Ihsan, Al Bantuly)
Yk, 23 April 2025
"Bekal Menuju Taubat"
A. Mukadimah
Bertaubat, selalu menjadi momentum terpenting dalam hidup seorang muslim. Karena penghormatan sebesar-besarnya, bukan Allah berikan kepada hamba-Nya yang paling sedikit berbuat dosa, namun kepada hambanya yang paling banyak bertaubat.
Kita memang patut dan wajib merasa takut berbuat dosa. Namun kita lebih patut dan lebih takut menjadi hamba yang enggan bertaubat. Karena, seperti diungkapkan oleh sebagian ulama As-Salaf,
لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ
وَلَا كَبِيرَةَ مَعَ اسْتِغْفَارِ
"Tidak ada yang disebut dosa kecil, bila dilakukan terus-menerus.
Tidak ada yang disebut dosa besar, bila diimbangi dengan taubat dan istighfaar.."
B. Bertaubatlah, Selama Engkau Bisa!
Melalui Al-Quran, Allah mengingatkan kita,
At-Tahrim 66:8
يَآأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةࣰ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّآتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتࣲ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِي ٱللَّهُ ٱلنَّبِيَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءࣲ قَدِيرࣱ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
~~~~~
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan menjalankan apa yang disyariatkan untuk mereka, bertobatlah kalian kepada Allah dari dosa-dosa kalian dengan tobat yang jujur, semoga Rabb kalian menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam Surga-surga yang di bawah istana-istananya dan pepohonannya mengalir sungai-sungai pada hari Kiamat, yaitu hari di mana Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan memasukkan mereka ke dalam Neraka. Cahaya mereka memandu di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka di atas Ṣiraṭ (titian di atas Neraka). Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, sempurnakan bagi kami cahaya kami hingga kami masuk Surga, sehingga kami tidak seperti orang-orang munafik yang mana cahaya mereka padam di atas Ṣiraṭ. Dan ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak lemah dalam menyempurnakan cahaya kami dan menghapus dosa-dosa kami.”
Setidaknya, ada dua hal yang Allah ingatkan kepada kita dalam ayat ini.
Pertama, bahwa kita sebagai kaum beriman, harus senan-tiasa melakukan taubat atas segala dosa-dosa dan kesalahan yang kita lakukan. Karena kata 'bertaubatlah' adalah perintah, seperti juga perintah, 'bertaqwalah'. Dan perintah itu selalu berlaku, selama kita beriman kepada Allah. 'Bila Anda merasa beriman, tak ada udzur untuk tidak bertaubat'. Kira-kira begitu penekanannya.
Kedua, taubat yang kita lakukan harus tulus. Yakni semata-mata mengharap keridhaan Allah. Agar kita diridhai, tidak dimurkai, dan dibebaskan dari adzab dan siksa-Nya.
Poin kedua ini mengingatkan kita, agar tidak melakukan yang disebut oleh Ibnul Qayyim sebagai 'Taubat para pen-dusta', atau mungkin mirip dengan yang kita sebut dengan taubat sambel. Artinya, ketika seseorang merasa bersalah dan berdosa atas perbuatan yang dia lakukan, lalu dia bertaubat dan memohon ampun, namun dalam hatinya masih terbetik hasrat, meskipun sangat halus, 'seandainya aku berkesempatan menjumpai maksiat itu lagi, dan aku berkemampuan melakukannya, serta tak ada yang hal-hal yang bisa menghalangiku, maka aku akan melakukannya lagi!'
Bertaubatlah, selagi kita bisa. Karena kadang-kadang taubat itu terhalangi oleh banyak hal, sehingga kita tak bisa atau belum bisa segera melakukannya.
Di antara hal yang menghalangi itu misalnya:
7 LEVEL /TINGKATAN MENGHALANGI DARI BERTAUBAT
1. Kenyamanan dan keenakan melakukan perbuatan dosa, atau yang disebut oleh Ibnul Qayyim dengan sikap Al-Unsu alias keakraban dengan maksiat. Perasaan itu kerap menghalangi orang bertaubat. Dorongan imannya untuk segera bertaubat, selalu terhalangi oleh kelezatan dan keenakan yang dia rasakan saat berbuat maksiat.
2. Kegandrungan atau kecanduan maksiat. Ini tingkatan lebih lanjut dari hal pertama di atas. Atau yang disebut oleh Ibnul Qayyim dengan istilah 'isyq, sejenis rasa cinta pada level ketiga, setelah 'ilaaqah (ketertarikan) dan gharaam (cinta yang melekat di hati) terhadap perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Bila sudah sampai ke level ini, seseorang bukan hanya terhalangi bertaubat karena rasa lezat yang ia rasakan saat melakukan dosa dan kemaksiatan tertentu yang digandrungi-nya, tapi bahkan ia akan merasa sakit dan kepayahan, bila sejenak saja tak melakukan dosa tersebut. Mirip dengan orang yang kecanduan narkoba dan sejenisnya. Hanya, kecanduan dosa secara umum bahkan lebih parah, karena pelakunya pada umumnya akan menolak mentah-mentah bila direhabilitasi.
Kecanduan yang Membelenggu:
Dosa, layaknya candu, memberikan kenikmatan sesaat yang memabukkan. Ia merasuki jiwa, membisikkan janji-janji palsu, dan meninabobokkan hati dari kesadaran.
Semakin sering dosa dilakukan, semakin kuat cengkeramannya. Ia menciptakan ketergantungan, sebuah lingkaran setan yang sulit diputuskan.
Benteng Penghalang Taubat:
Kelezatan dosa menjadi benteng kokoh yang menghalangi jalan taubat. Ia membisikkan keraguan, menakut-nakuti dengan bayang-bayang kesepian, dan merayu dengan janji kenikmatan yang tak berujung. Dorongan iman untuk bertaubat seolah teredam oleh bisikan-bisikan syaitan yang memuja kelezatan duniawi.
Ilusi Kebahagiaan:
Dosa seringkali menyamar sebagai sumber kebahagiaan. Ia menjanjikan kepuasan instan, pelarian dari masalah, dan pemenuhan hasrat duniawi.
Namun, kebahagiaan yang ditawarkan dosa hanyalah ilusi semata. Ia bersifat sementara, meninggalkan kekosongan dan penyesalan yang mendalam.
Perbandingan yang Menarik:
Kita dapat membandingkan kenikmatan dosa ini seperti memakan makanan yang sangat enak, namun mengandung racun didalamnya. Pada saat kita memakannya, kita merasa sangat enak, namun setelah beberapa lama, racun itu akan membunuh kita.
Atau seperti seseorang yang sedang berada didalam kubangan lumpur, dimana lumpur itu sangat enak dan nyaman untuk dia tiduri, namun lambat laun, lumpur itu akan menenggelamkan dirinya.
Menggugah Kesadaran:
Penting untuk menyadari bahwa kelezatan dosa hanyalah jebakan belaka. Ia adalah racun yang merusak jiwa, mematikan hati, dan menjauhkan kita dari rahmat Allah.
Taubat adalah jalan keluar dari jeratan dosa. Ia adalah anugerah Allah bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.
Dengan menyadari bahwa kenikmatan dosa hanyalah kesenangan sesaat, dan penyesalan yang berkepanjangan, semoga kita semua bisa terhindar dari perbuatan dosa.
3. Rasa bangga terhadap dosa. Ini termasuk penghalang utama dari taubat. Kecendrungan pada dosa, dan kebiasaan orang melakukannya, lalu berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama menggandrunginya, akan melahirkan sikap bangga pada dosa tersebut. Bahkan semakin hebat dosa itu ia lakukan, semakin banyak ia lakukan, semakin besar rasa bangga dalam hatinya. Melakukan dosa bahkan menjadi seperti mengejar prestasi atau menumpuk rekor. Karena kebanggaan terhadap dosa, seseorang meski pada hakikatnya ia muslim, orang yang beriman--, menjadi sulit berpikir akan bertaubat. Selain berat, ia juga merasa malu bila harus bertaubat, sementara rekor dosanya masih dilampaui orang lain, atau khawatir dipandang 'kalah sebelum berakhir pertandingan'. Baginya, bertaubat berarti menghilangkan kebanggaan dirinya selama ini.
4. Terlanjur terikat oleh lingkungan para pemuja dosa dan maksiat. Artinya, lebih khusus dari hal ketiga, pada level ini bukan lagi kebanggaan si pendosa terhadap dosanya itu yang membuatnya enggan bertaubat, tapi justri inisiatif, agresifitas dan kefanatikan teman-temannya sesama ahli maksiat yang mencengkeramnya dalam dunia maksiat.
Mereka akan merasa kehilangan, bila ia bertaubat. Maka mereka berusaha mengha-lang-halangi, saat ia terlihat ada kecendrungan mau bertau-bat. Saat ada seseorang yang mendekatinya dan mengajaknya bertaubat, maka sekian temannya akan datang membujuknya kembali berbuat dosa.
5. Raan atau selimut hitam yang mengotori hati. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Apabila seorang hamba muslim atau mukmin melakukan perbuatan dosa, dalam hatinya akan melekat noda hitam. Jika ia bertaubat dan beristighfar, maka noda itu akan lenyap. Namun bila ia terus berbuat dosa, maka noda hitam itu akan semakin menyelimuti hati. Itulah yang disebut raan dalam firman Allah, "Bahkan hati mereka sudah ter-selimuti oleh raan, akibat apa yang mereka perbuat..." Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi XI :162, oleh Ibnu Majah XII : 294 dan beberapa perawi lain, di antaranya dari hadits Abu Hurairah.
Raan ini akan menghitami hati seseorang, sehingga ia sulit bertaubat. Pandangannya terhadap kebenaran menjadi kabur, dan niat tulusnya memperbaiki makin hari makin berkurang, hingga lenyap sama sekali.
6. Merasa terlanjur basah. Ini salah satu godaan setan pada diri manusia. Ada kalanya, seseorang tidak terlalu dalam terjebak dalam dosa, namun justru setan memberi bayangan hitam pada dirinya, dan menggambarkan bahwa dirinya sudah terlalu jauh berbuat dosa, dan sudah tak ada gunanya bertaubat. "Kalian yang masih muda dan bersih, jangan meni-ru diriku ini. Kalau aku, sudah terlanjur basah. Bertaubatpun sudah tanggung.." Ungkapan seperti ini, banyak terlontarkan oleh sebagian orang. Bila seseorang sudah memiliki persepsi seperti itu terhadap dosa dan maksiat, maka ia sudah terkena penyakit yang disebut 'Al-Ya-su min rahmatillah', putus asa terhadap rahmat Allah. Karenanya, ia bisa kufur. Jangan mem-biarkan diri terjebak dalam maksiat, sehingga melahirkan rasa putus asa tersebut. Sehingga karenanya, seseorang menjadi semakin sulit bertaubat.
7. Sudah memandang enteng urusan dosa. Perasaan ini muncul pada orang yang terkena penyakit, 'al amnu min makrillah', merasa aman dari siksa Allah. Yakni semacam perasaan dalam hati yang cenderung meremehkan dosa dan maksiat, akibat akumulasi kelezatan maksiat, kepekatan hati dengan dosa, godaan dunia yang memukau. Pada level ini, se-seorang sudah hanya menganggap agama sebagai 'instrumen' sederhana saja dalam hidup, bahkan hanya dijadikan sebagai formalitas dalam acara-acara keduniaan. Bila demikian, jarak antara seseorang dengan taubat semakin jauh. Kecuali bagi yang diberi rahmat oleh Allah. Dan betapa sedikitnya mereka.
C. Meraih Cinta Allah dengan Bertaubat
Maukah Anda meraih cinta Allah? Saya yakin Anda mau. Siapakah makhluk Allah di dunia ini, yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, yang tidak merindukan cinta Allah.
Allah yang telah menciptakan kita dari tidak ada. Allah yang telah memberi kita ijin mengecap kehidupan dunia ini.
Allah yang telah menciptakan segala kesempurnaan dalam tubuh dan nurani kita sebagai manusia. Allah yang tak cukup hanya memberi kita hidup, tapi juga memberi kita bekal untuk menjalani hidup, memberikan kepada kita hidayah dan petunjuk demi kebahagiaan dunia, bahkan juga kebahagiaan di akhirat kelak. Tak pantaskah kita bersikeras menggapai cinta kasih-Nya? Bila ingin menggapai Cinta Terindah itu, jadilah orang yang bertaubat.
Nabi Ibrahim pernah mengungkapkan isi hatinya kepada Allah, seperti tertera dalam al Quran,
"Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terima-lah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah : 128)
Allah juga menegaskan kecintaan-Nya terhadap orang-orang yang gemar bertaubat. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah : 222)
Karena taubat adalah syarat menggapai cinta Allah, maka para nabi pun senantiasa melakukan taubat.
"Dan durhakalah Adam kepada Rabb dan sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." ( Thaaha: 121-122)
Al Quran mengisahkan taubat Nabi Musa kepada kita. Musa adalah Nabi yang pernah diajak berbicara oleh Allah secara langsung.
"Musa berkata, Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan adalah musuh yang menyesatkan, lagi nyata (permu-suhannya).
Musa berdoa:
Ya Rabbi sesungguhya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al Qashash: 15-16)
Beliau juga telah melakukan kesalahan setelah menerima tugas kerasulan, ketika beliau berkata,
"Berkatalah Musa: Ya Rabbi, tampakkanlah (diri Engkau) kepada-ku agar aku melihat kepada Engkau. Rabb berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sedia kala) niscaya kamu dapat melihatku. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh, dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." (al A'raaf: 143)
Setelah membunuh salah seorang pengikut Bani Israil, Musa mengungkapkan penyesalannya,
"Musa berdo'a: Ya Rabbi, ampunilah aku dan sauadaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Al A'raaf: 151)
Menggapai cinta Allah adalah hal terintah dalam hidup. Baik di dunia yang fana ini, maupun dalam kehidupan akhirat yang abadi. Kita telah lama berjuang mencari cinta dari ba-nyak orang, dari banyak ciptaan Allah di dunia ini. Namun, seberapakah upaya yang telah kita kerahkan untuk menggapai cinta-Nya?
Padahal, hanya dengan cara itu kita dapat merasakan indahnya iman. Sabda Nabi, “Orang yang memiliki tiga hal berikut, pasti merasakan manisnya iman: Hendaknya Allah dan Rosul-Nya lebih dia cintai dari segalanya; tidak mencintai seseo-rang melainkan karena Allah; dan benci kembali kepada kekafiran, seperti kebencian seseorang bila dicampakkan ke dalam api²."
D. Taubat Adalah Kebutuhan Kita
Betapa butuhnya kita terhadap taubat. Bayangkanlah, betapa pahitnya hidup orang yang bergelimang harta, namun terancam siksa Neraka.
Betapa menderitanya orang yang berkerja keras mencari penghidupan dunia, namun juga selalu ditindih perasaan ber-dosa, dan hatinya lemah menghadapi segala godaan dunia.
Bayangkanlah, apakah rasa bahagia yang dapat dirasakan oleh orang yang otaknya hanya dipenuhi oleh rumus-rumus dunia, oleh kegilaan mengejar segala yang fana, sementara hati buta kebenaran, buta terhadap akhirat?
:
مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَه
"Barang siapa yang akhirat menjadi tujuannya, niscaya Allah menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina.
"Orang yang cita-citanya tertuju pada dunia saja, urusanya akan Allah cerai beraikan, kemiskinan senantiasa terbayang di pelupuk matanya, sementara dunia yang mendatanginya hanya sebatas yang telah Allah tetapkan baginya saja.
Dan Siapa saja yang cita-citanya tertuju pada akhirat, pasti Allah beri keteguhan pada kesatuan jiwanya, kekayaan selalu melekat dalam hatinya. Sementara dunia justru mendatanginya secara pasrah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits, Ash-Shahihah nomor 949
Maka, taubat adalah kebutuhan kita. Karena hanya dengan itu, kita bisa merasakan keindahan sesungguhnya dari karunia dunia ini. Dan hanya dengan itu, seseorang akan menjadi kaya sebelum kaya, menjadi kaya meski hidup miskin menderita. Hanya dengan itu, seseorang akan mampu meresapi karunia, karena setiap tetes air dalam kehidupan adalah harapan menggapai karunia yang jauh lebih mulia di akhirat sana.
Nabi ﷺ senantiasa berdoa,
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
"Yaa Allah, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elok--kanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan. Diriwayatkan oleh Muslim.
Banyak di antara kita yang tidak merasa butuh bertaubat, karena taubat dianggapnya sebagai takdir semata. Taubat hanya 'hak' dari Allah. Sehingga -wal 'iyaadzu billah-- terselip anggapan, bahwa seolah-olah Allah yang membutuhkan taubat kita. Padahal sesungguhnya kitalah yang sangat membutuhkan taubat. Allah hanya memberi kesempatan untuk mengaruniai taubat-Nya, bagi siapa yang tulus bertaubat kepada-Nya.
"Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bah-wasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?." (At-Taubah: 104)
"Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan." (Asy-Syuuraa: 25)
"Yang mengampuni dosa dan menerima taubat."
(Ghaafir: 3)
"Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (An-Nisa: 64)
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, membuat perbaikan dan menerangkan kebenaran, maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubat mereka...." (Al-Baqarah : 160)
"Maka barangsiapa bertaubat setelah kezholimannya dan membuat perbaikan, maka sesungguhnya Allah menerima tau-batnya...." (Al-Maidah [5]: 39)
"... Kemudian Dia menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (At-Taubah [9]: 118)
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. رَوَاهُ التِرْمِنِي
"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nafasnya berada di kerongkongan, Riwayat At Tirmidzi no. 3537 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami' Ash Shaghir no.1899
الهِجْرَةُ لاَ تَنْقَطِعُ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْتَوْبَةُ
وَلَا تَنْقَطِعُ الْتَوْبَةُ حَتَّى
تَطْلَعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا.
رَوَاهُ أَبو دَاوُد وَأَحْمَدُ
"Hijrah tidak terputus sampai terhentinya (masa untuk) taubat, dan taubat tidak terputus sampai matahari terbit dari sebelah barat. * Riwayat Abu Dawud, no. 2479 dan Ahmad dalam Musnad (3/99) dan dishahihkan dalam Shahih Al Jami', no, 7469.
Allah Mahakaya, dan Allah sama sekali tidak membutuhkan taubat kita. Namun dengan kasih sayang, rahmat dan ke-murahan-Nya, Allah senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk bertaubat.
Andaikata kita betul-betul memahami kebutuhan kita terhadap taubat, niscaya kita tidak akan membiarkan nafas kita berdesah, tanpa dzikir, tanpa mengingat Allah, tanpa me-masukkan unsur taubat dan permohonan ampun pada setiap situasi dan kondisi.
E. Mencoba Bertaubat, dengan Atau Tanpa Rasa Sesal
Tentu, taubat harus dibarengi rasa sesal atau penyesalan atas dosa dan maksiat yang dilakukan. Namun, jujur, betapa tak setiap kita mampu membekaskan rasa sesal dalam dada, saat ia berbuat dosa, atau melakukan perbuatan yang tergo-long maksiat, bahkan ketika maksiat itu tergolong dosa besar sekalipun. Wallaahul musta'aan.
Lalu, apakah dalam kondisi hati yang demikian, seseorang membiarkan dirinya tidak bertaubat dan mengucapkan istighfar atas dosa yang ia lakukan? Tidak. Taubat dan istighfar harus selalu dilakukan, meski kondisi hati masih begitu bandel untuk mau tunduk pada penyesalan yang sesungguhnya.
Anas bin Malik pernah berkata di hadapan kaum musli-min yang hidup di jamannya,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُوبِقَاتِ
* "Innakum lata'malūna a'mālan hiya adaqqu fī a'yunikum minasy-sya'ri, in kunnā lana'udduhā 'alā 'ahdin-nabiyyi shallallāhu 'alaihi wa sallama minal-mūbiqāt."
"Sesungguhnya kalian terkadang melakukan beberapa perbuatan yang dalam pandangan kalian lebih remeh dari sehelai rambut, padahal di masa hidup Rasulullah, kami (para Sahabat nabi) memandangnya sebagai perbuatan-perbuatan yang membina-sakan..."
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Sahihnya. Hadis ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, meskipun terlihat remeh, karena bisa jadi perbuatan tersebut berdampak besar di sisi Allah SWT.
Bila demikian di masa hidup para tabi'in yang dianggap sebagai generasi terbaik setelah para Sahabat, lalu bagaimana di masa hidup kita sekarang ini?
Sikap memandang rendah dosa, jelas sangatlah dilarang dalam Islam. Namun dosa dan kemaksiatan yang menyebar-luas dalam masyarakat, di mana terkadang bahkan tersedia sebagai fasilitas umum, di mana dengan atau tanpa sadar mata dan telinga kita dimanjakan oleh beragam jenis kemaksiatan tanpa kita bisa begitu mudah menghindarinya, kesemuanya adalah realitas yang membuat semakin hari banyak di antara kita yang menjadi akrab dengan kemaksiatan tanpa mereka sadari.
Saat itu, bisikan iman selalu mendorong kita untuk bertau-bat dan berisighfar. Namun di sisi lain, hal itu kerap dilakukan kebanyakan kita dengan kering, tanpa diserta penyesalan yang layak atas dosa yang dia lakukan. Betapa memilukan. Betapa rasanya air mata ini layaknya tumpah ruah membasahi tubuh kita, atas kekerdilan jiwa kita. Cobalah simak, ungkapan Abdullah bin Mas'ud,
"Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosanya seolah-olah ia tengah berada di bawah gunung dan khawatir apabila gunung itu menindihnya. Sebaliknya orang fasik melihat dosanya seolah-oleh dosa itu hanya seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia berkata, "Hus, pergi."
Layaknya kekhusyuan dalam soal, penyesalan hati atas per-buatan dosa bukanlah hal yang bisa muncul dengan dipaksa. la hadir dalam hati, seiring dengan kegigihan kita menjalankan syariat, melaksanakan hal-hal yang diwajibkan kepada kita, dan yang disunnahkan atau dianjurkan dalam agama, lalu menghindari segala yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Saat iman tumbuh menyubur dalam jiwa, rasa penyesalan atas segenap dosa yang pernah kita lakukan, atau dosa dan maksiat yang baru saja kita lakukan, akan muncul bak sirap-an air dari pancuran gunung: dingin dan menyejukkan hati.
Tanpa terasa, bulir-bulir air mata meleleh di pipi, membasahi tubuh kita yang telah menjadi hina selama ini akibat dosa dan kemaksiatan.
Namun, janganlah menunggu saat itu, baru Anda ber-taubat. Saat iman dan keyakinan Anda menyadari dosa dan kemaksiatan yang telah Anda lakukan, lekaslah bertaubat Karena, Anda tidak tahu kapan saat-saat indah itu akan mun-cul. Atau mungkin Anda tak akan pernah mendapatkannya sama sekali. Maka, jangan membiarkan diri Anda meregang nyawa dalam lumuran dosa. Pasrahkan diri pada Allah Yang Maha Perkasa. Bertaubatlah atas setiap dosa yang kita pernah atau telah lakukan. Ucapankan istighfar sebanyak-banyaknya. Niscaya Allah akan menganugerahi kepada kita taubat yang sesungguhnya. Yang membuat kita menumpahkan tangis sesal atas segala kekhilafan yang pernah kita lakukan selama ini.
F. Bertaubatlah, Meski Berkali-kali Terjebak dalam Dosa yang Sama.
Tentu, sangatlah besar dosa orang yang menunda-nunda taubat, atau yang sengaja berniat melakukan dosa, untuk kemudian bertaubat atas dosanya itu. Kita sama sekali tidak dianjurkan melakukan hal itu. Namun, kelemahan jiwa kita sebagai manusia, kadang menjebak kita dalam perbuatan dosa yang sama hingga berkali-kali, dan kita senantiasa bertaubat atas dosa tersebut.
Apakah dalam kondisi demikian kita layak terus bertaubat? Ya, bahkan itu harus dilakukan. Meski itu terjadi berkali-kali, seperti disebutkan dalam sebuah hadits qudsi, di mana Allah berfirman, "Seorang hamba melakukan dosa, dan berdoa, 'Ya Rabbi, aku telah melakukan dosa maka ampunilah aku.”
Rabb-nya berfirman, 'Hamba-Ku mengetahui bahwa dia mem-punyai Rabb yang akan mengampuni dan menghapus dosanya, maka Aku ampuni hamba-Ku itu."
Kemudian waktu berjalan dan orang itu tetap seperti itu hingga masa yang ditentukan Allah, hingga orang itu kembali melakukan dosa yang lain. Orang itupun kembali berdoa, 'Ya Rabbi, aku kembali melakukan dosa, maka ampunilah dosaku.'
Allah berfirman, 'Hamba-Ku mengetahui bahwa dia mempu-nyai Rabb Yang mengampuni dan menghapus dosanya, maka Aku ampuni hamba-Ku itu.'
Kemudian waktu berjalan dan orang itu tetap seperti itu hingga masa yang ditentukan Allah, hingga orang itu kembali melakukan dosa yang lain. Orang itupun kembali berdoa,
'Ya Rabbi, aku kembali melakukan dosa, maka ampunilah dosaku.'
Allah berfirman, 'Hamba-Ku mengetahui bahwa dia mempu-nyai Rabb Yang mengampuni dan menghapus dosanya, maka Aku ampuni hamba-Ku itu.'......dan silahkan ia melakukan apa yang ia mau.."
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim lihat: al Lulu wa al Marjan (1754) dan lihatlah: Fathul Bari juz 13 hal. 46 dan setelahnya.
Ini fenomena yang umum terjadi, di masa sekarang ini, di mana senantiasa terjadi tarik-menarik antara kubu para pelaku dosa, dan kubu orang-orang yang bertaubat. Masing-masing kubu bersenanghati menerima kehadiran kembali seseorang, yang selama ini berpisah dari mereka. Orang-orang yang bertaubat senang menerima hadirnya pelaku dosa yang kembali bertaubat atas dosa-dosanya. Begitu pula, para pelaku dosa akan riang gembira menyambut orang shalih yang kem-bali menggeluti dosa-dosa lamanya.
Maka, begitu banyak orang yang menjadi korban tarik-me-narik itu. Berapa banyak orang shalih yang akhirnya terjebak dalam dosa, yang dari dosa itu dahulu ia pernah bertaubat. Dan sayangnya, itu terjadi berkali-kali sepanjang hidupnya. Namun, selama ia tulus bertaubat dan ingin memperbaiki diri, tak ada istilah pintu taubat tertutup baginya, selama nyawa belum sampai di kerongkongan, atau matahari belum terbit dari arah barat.
Namun, sekali lagi, hadits itu bukanlah dalil bagi seseorang untuk menunda-nunda taubat, atau meremehkan urusan dosa. Tapi ini fenomena yang bisa saja terjadi pada seseorang, tanpa ia sendiri menginginkannya. Dan bila itu terjadi, ia tidak boleh berhenti bertaubat, selama hayat masih dikandung badan.
Al Qurthubi menjelaskan, 'Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini adalah: kembali berbuat dosa adalah lebih buruk dari ketika pertama kali melakukan dosa itu, karena dengan kembali berdosa itu ia berarti melanggar taubatnya. Tapi kembali melakukan taubat adalah lebih baik dari taubatnya yang pertama, karena ia berarti terus meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah, terus meminta kepada-Nya, dan meng-akui bahwa tidak ada yang dapat memberikan taubat selain Allah...10
10 Lihat: Fathul Bari: 14: 471. Cetakan: Darul Fikr al Mushawirah As-Salafiyah.
Sekali lagi, kita sama sekali tidak berhak menunda-nunda taubat, dengan berpegang pada kemurahan Allah, rahmat dan ampunan Allah. Allah, memang Maha Pemurah, tapi Allah juga Maha Perkasa, Maha Hebat siksa-Nya. Kita harus sadar, bahwa kapan pun maut bisa saja menjemput kita.
"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya." (Qaaf 19)
Allah berfirman, "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu dite-rima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: Sesungguhnya saya bertaubat sekarang. Dan ti-dak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." [An Nisa: 17-18]
G. Siapkah Anda Bertaubat?
Anda harus siap bertaubat, dan tidak ada kata lain sebagai jawabannya. Karena, seperti diungkapkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa bahaya dosa terhadap hati manusia, seperti bahaya racun terhadap tubuh. Besar kecilnya, tergantung banyak sedikitnya dosa, besar kecilnya dosa.
Dalam buku beliau, Al-Jawaabul Kaafi Liman Sa-ala 'Anid Dawaa-isy Syaafi, Ibnul Qayyim menyebutkan berbagai bahaya dan pengaruh dosa pada rusaknya hati, yang dapat diringkas sebagai berikut:
1. Sulit memperoleh ilmu. Hal itu amatlah wajar, karena ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati. Sementara maksiat justru berpotensi memadamkan cahaya tersebut. Imam Syafi'i berkata,
"Aku mengadu kepada Waki' tentang hafalanku yang terganggu. Beliau membimbingku agar meninggalkan maksiat,
Beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah itu tidak dapat dimiliki oleh pelaku maksiat."
2. Sulit rezeki. Bagi orang beriman, ketakwaan menjadi sumber rezekinya. Saat ia banyak berbuat maksiat, otomatis rezekinya bisa saja menjadi seret. Di lain waktu, bisa saja uang dan hartanya berlimpah ruah. Tapi akan ada saja hal-hal yang menghalangi dirinya menikmati rezekinya tersebut. Segala jenis makanan terbeli, tapi untuk menikmatinya harus sedemikian selektifnya. Berondongan penyakit seperti lever, jantung koroner, kelebihan kolestrerol, asam urat, deabetes, kesemuanya menjadi ranjau-ranjau yang sangat berbahaya buat semua makanan itu. Akhirnya yang dia konsumsi hanya makanan yang layak disantap orang termiskin di dunia.
3. Susah beribadah. Apabila hukuman untuk sebuah kemaksiatan hanyalah bahwa si pelaku maksiat menjadi ter-halangi melakukan ibadah, sulit mencapai kekhusyuan dalam sholat, hatinya menjadi beku, cukuplah itu sebagai hukum-annya. Padahal itu hanya awal dari sekian banyak hukuman lainnya, bila ia tidak bertaubat.
4. Memperlemah tubuh dan merusak hati. Soal hati, cukup jelas, maksiat memang racun paling berbahaya buat hati manusia. Soal tubuh, realitas membuktikan betapa tubuh seseorang menjadi nyaris tidak memiliki kekebalan lagi ter-hadap banyak penyakit, akibat bergelimgang dalam maksiat. Karena bila hati tidak tentram akibat kurang berdzikir dan banyak bermaksiat, jantung akan berdetak tidak beraturan. Akibatnya, sirkulasi darah tidak lancar. Konsekuensinya, paso-kan gizi, vitamin, antibody dan yang lainnya ke seluruh tubuh terhambat. Efeknya, banyak saraf yang tidak akan bekerja normal, akan banyak organ tubuh yang kurang sehat. Sekian banyak penyakitnya menanti di depan mata.
5. Maksiat dapat memperpendek umur dan menghilang-kan keberkahannya. Kebaikan dapat menambah (barakah) usia. Demikian juga kemaksiatan dapat memperpendek usia.
6. Kemaksiatan selalu melahirkan maksiat. Akibatnya, pelaku maksiat itu menjadi berat sekali meninggalkan dan menjauhkan kemaksiatan tersebut.
7. Kemaksiatan bisa mengikis tekad dan semangat ber-taubat, sedikit demi sedikit, sehingga keinginan bertaubat itu lenyap sama sekali dari dalam hati.
8. Maksiat menyebabkan seseorang menjadi di hadapan Allah. Al-Hasan Al-Basri menjelaskan, "Derajat mereka menjadi rendah di hadapan Allah. Oleh sebab itu mereka ber-buat maksiat. Kalau mereka berkedudukan mulia di hadapan Allah, tentu Allah akan memelihara mereka. Allah berfirman, "Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya." (Al-Hajj : 18)
9. Selain pelaku dosa dari kalangan manusia, ternyata binatang pun ikut pula merasakan akibat kesialan dari perbuatan dosanya. Sehingga si pelaku dan orang lainpun ikut terimbas kesialan dosa dan perbuatan zhalim tersebut.
10. Bila sebuah perbuatam dosa dilakukan secara terus menerus, maka dosa itupun menjadi semakin ringan bagi si pelaku. Dan itu adalah awal kebinasaannya.
"Seorang mukmin akan melihat dosa-dosanya seolah-olah sebuah gunung yang ia khawatir akan menimpanya. Sementara orang fa-sik akan melihat dosanya seolah-olah lalat hinggap di hidungnya, lalu ia katakan: "Ah," sampai lalat itu terbang." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya)
11. Maksiat dapat merusak akal dan menurunkan tingkat kecerdasan. Karena akal itu mengandung cahaya. Sementara maksiat itu justru berpotensi besar memadamkan cahaya ter-sebut. Apabila cahaya akal padam, maka si akalpun menjadi lemah dan berkurang pula kemampuannya.
12. Apabila dosa itu semakin menumpuk, ia akan terpatri dalam hati pelakunya, sehingga orang tersebut menjadi lalai. Allah berfirman, "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Al-Muthaffifin : 14)
13. Dosa dan maksiat menyebabkan banyak terjadinya ber-bagai kerusakan, di darat, lautan, sawah ladang, perkebunan buah dan tempat-tempat tinggal. Allah berfirman, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena per-buatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Ruum: 41)
14. Dosa dan maksiat mengakibatkan hilangnya rasa malu yang merupakan materi penyubur hati. Rasa malu adalah dasar segala kebaikan, bahkan bisa disebut sebagai kumpulan dari segala bentuk kebaikan. Nabi b bersabda, "Rasa malu adalah segala kebaikan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
15. Dosa dan maksiat dapat memperlemah kemauan hati untuk senantiasa mengagungkan Allah. Dan akibatnya, seo-rang hamba menjadi semakin nekat berbuat maksiat.
16. Dosa dan maksiat menyebabkan Allah melupakan si hamba, dan membiarkannya menjadi santapan setan. Itulah awal dari sebuah kebinasaan.
17. Dosa dan maksiat dapat mengeluarkan seorang hamba dari lingkaran nilai-nilai kebajikan, menghalangi dirinya memperoleh pahala orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan. Karena nilai-nilai kebajikan hanya akan masuk ke dalam hati yang terbebas dari maksiat.
18. Dosa dan maksiat dapat melenyapkan berbagai kenik-matan, dan mengundang berbagai bencana. "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh per-buatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Asy-Syura : 30)
Allah juga berfirman, "Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Pengetahui." (Al-Anfaal: 53)"
19. Dosa dan maksiat menimbulkan kegersangan yang amat sangat dalam hati pelakunya. Akibat kegersahan hatinya, seseorang menjadi terhalangi berkomunikasi secara nikmat dengan Rabbnya. Hidupnya juga tidak akan pernah merasa tentram, karena dalam hatinya selalu saja berkecamuk kecemasan.
20. Dosa dapat membuat hati tidak sehat dan tidak tera-rah, menjadi sakit dan cenderung nyeleneh. Hati yang sakit dan nyeleneh itu tidak akan mampu menyerap gizi sehat dan putaran kehidupan. Sehingga dari hari ke hari, kondisinya akan semakin mengenaskan.
21. Dosa dapat membutakan mata hati dan melenyapkan cahaya batin. Akibatnya, si pelaku akan sulit memahami ilmu dan jauh dari petunjuk
22. Dosa dan maksiat, menyebabkan derajat dan marta-bat seseorang runtuh di hadapan Allah. Karena makhluk yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. Orang yang paling dekat dari sisi Allah adalah orang yang paling taat kepada-Nya.
23. Dosa dapat mengotori nama baik dan kemuliaan sese-orang. Status sebagai mukmin sejati, orang baik-baik, orang yang suka berbuat kebajikan, orang yang bertakwa, orang taat, dan segudang gelar kebaikan lainnya, otomatis terlepas dari dirinya.
24. Dosa dan maksiat bahkan dapat memutus hubungan antara hamba dengan Rabb-nya. Bila hubungan tersebut ter-putus, tidak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan.
25. Dosa melenyapkan berkah usia, berkah rezeki, berkah ilmu, berkah amal, dan berkah ibadah. Singkatnya, dosa dan maksiat dapat melenyapkan berkah hidup di dunia, apalagi di akhirat.
26. Dosa menyebabkan seorang hamba lupa diri. Kalau sudah lupa diri, orang akan menyepelekan, merusak bahkan membinasakan dirinya sendiri.
27. Dosa dapat melenyapkan kenikmatan yang sedang dinikmati oleh seorang hamba, dan menghalangi datangnya kenikmatan selanjutnya.
28. Dosa dan maksiat juga menyebabkan hati seseorang selalu dipenuhi rasa was-was, cemas dan kegelisahan. Hidup-nya akan dihantui perasaan bersalah, sehingga kenikmatan apapun menjadi hambar rasanya¹2.
H. Menjadi Yang Terbaik, dengan Bertaubat
Kita hanya bisa menjadi yang terbaik, dengan senantiasa bertaubat. Karena Nabi n menegaskan,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّةٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُوْنَ
"Masing-masing anak manusia adalah pelaku dosa. Namun sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah yang paling banyak bertaubat",
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak N : 272. Sanadnya shahih.
Sebanyak apapun ilmu yang kita miliki, tak bisa membuat kita menjadi baik di sisi Allah, bila kita tak banyak bertaubat. Berapa banyakpun amalan yang kita kerjakan, tak akan meng-angkat derajat kita, selama kita enggan bertaubat.
Seberapapun harta yang kita punya, sebesar apapun karu-nia Allah yang kita kecap, seberapa tinggipun pendidikan yang kita kenyam, tak akan bermanfaat banyak, tanpa kita banyak bertaubat.
Tanpa banyak bertaubat, amalan hanya menjadi sampah, hanyan menjadi potensi riya dan sum'ah, hanya menjadi amal-an kering tanpa makna. Tanpa banyak bertaubat, ilmu justru akan menjerumuskan seseorang pada penghambaan diri terhadap nafsu dan syahwat, akan membuat orang makin tak tahu diri, dan hanya menggunakan ilmunya demi keuntungan dunia semata.
Tanpa banyak bertaubat, harta dan karunia dunia hanya menggiring kita menjadi budak keduniaan. Akan melenyapkan kebahagiaan hakiki. Akan membuat kita semakin merasa miskin, semakin merasa sengsara. Sementara adzab dan siksa akhirat telah menanti.
Bertaubatlah sebanyak yang kita mampu, sebelum ke-mampuan itu terkubur karena kepongahan dan kelalaian kita sendiri...
Bonus Majalah NIKAH Vol. 8 Edisi 5, Agustus 2009
Tumbuh di Sarang Ular, Maka Jangan Heran Jika Berbisa
مَنْ كَانَ فِي حِجْرِ الْأَفَاعِي نَاشِئًا، غَلَبَتْ عَلَيْهِ طَبَائِعُ الثُّعْبَانِ.
Barang siapa tumbuh di lubang ular, maka tabiat ular akan menguasainya.
Peribahasa Arab ini menyampaikan pesan mendalam: bahwa manusia dibentuk oleh lingkungannya. Bila seseorang besar di tengah lingkungan yang buruk—penuh tipu daya, fitnah, kedengkian, atau kemunafikan,-- maka cepat atau lambat, wataknya pun akan menyerupai lingkungan itu, meski ia tak berniat demikian.
Hal ini sesuai dengan kaidah dalam Islam bahwa manusia akan sangat dipengaruhi oleh siapa dan di mana ia berada.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ"
"Seseorang itu mengikuti agama (gaya hidup) sahabat dekatnya. Maka hendaklah kalian memperhatikan dengan siapa kalian bersahabat."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Lingkungan yang buruk bisa menodai hati yang bersih, sebagaimana air jernih menjadi keruh jika dituang ke dalam bejana kotor.
Al-Qur’an juga memperingatkan:
"وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا"
"Dan (ingatlah) hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya (menyesal) seraya berkata: 'Wahai, andai aku tidak menjadikan si fulan teman akrabku.'"
(QS. Al-Furqan: 28)
Ibnu Qayyim rahimahullāh berkata:
"Pergaulan itu adalah sebab terbesar rusaknya hati."
Karenanya, ulama-ulama besar sangat hati-hati dalam memilih teman duduk dan lingkungan belajar.
Kesimpulan:
Lingkungan bukan sekadar tempat seseorang tumbuh, tetapi ia adalah pembentuk jati diri. Jika seseorang ingin menjadi wangi, dia harus tumbuh di kebun bunga. Tapi jika rela dibesarkan di sarang ular, jangan kaget bila nanti dia pun menggigit dan berbisa. Maka, pilihlah lingkungan dan sahabatmu sebagaimana engkau memilih makananmu: hati-hati, selektif, dan penuh pertimbangan.
Komentar
Posting Komentar